Wednesday, October 9, 2024

Prajogo Borong Rp181 M Saham BREN, BEI Peringatkan Ini

 

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi aksi Chairman Grup Barito Pacific Prajogo Pangestu yang belakangan memborong saham perusahaannya dengan nilai yang besar. Padahal, BREN sempat disorot usai tidak memenuhi syarat free float indeks FTSE.

Sebagai informasi, Prajogo meningkatkan kepemilikan di PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dengan membeli 26,6 juta lembar saham atau senilai Rp 181 miliar.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi pembelian tersebut dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 2 Oktober 2024 yang sebanyak 16.712.500 saham dengan harga rata-rata Rp 6.776. Sehingga Ia merogoh kocek senilai Rp 113,24 miliar.

Selanjutnya, pada 3 Oktober 2024 sebanyak 9.899.100 saham dengan harga rata-rata Rp 6.845 atau senilai Rp 67,76 miliar.

Alasannya memborong saham karena kepercayaan dan keyakinannya pada perusahaan dan keinginan untuk terus mendukung Indonesia mencapai net zero emission.

Menanggapi hal ini, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna tak menampik aksi tersebut mengurangi jumlah saham yang beredar atau free float pada emiten energi terbarukan tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa setiap pemilik saham memiliki hak untuk membeli saham-saham miliknya.

"Kan nanti ada proses mereka juga akan melakukan penjualan," kata Nyoman saat ditemui wartawan wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, dikutip Rabu (9/10/2024).

Terlepas dari hak tersebut, perseroan wajib bertanggung jawab untuk mencatat dan memantau kepemilikan saham di perusahaannya melalui Sekretaris Korporasi. Hal ini diperlukan agar BEI bisa memeriksa apakah perusahaan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

"Pada saat itu dia juga akan mengambil tindakan untuk memastikan perusahaannya itu memenuhi free float," kata dia.

Sekadar mengingatkan, akhir bulan lalu saham BREN sempat terkoreksi signifikan usai tak jadi masuk dan malah dikeluarkan dari indeks ternama global FTSE Global Equity Series - Large Cap. Saham BREN digadang-gadang akan masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series - Large Cap yang akan berlaku per 20 September 2024 dan efektif pada 23 September 2024, namun akhirnya dibatalkan.

Melalui pengumuman resmi FTSE Russel pada Kamis (19/9/2024), saham BREN dikeluarkan lantaran tidak memenuhi persyaratan free float. Dalam pernyataan FTSE, mereka menjelaskan ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.

Imbas ditendang dari FTSE, saham BREN ambruk 40% dalam kurun waktu tujuh hari perdagangan dari Rp 11.025 per saham pada 19 September 2024 menjadi Rp 6.600 pada 30 September 2024.

Monday, October 7, 2024

Orang RI Berharta Rp 140 Triliun Ini Rela Hidup Miskin

 

Pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja wafat. Ist
Foto: Pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja wafat. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Tumpukan harta yang berlimpah tak membuat pengusaha sukses bernama Eka Tjipta Widjaja lupa diri, hingga menghambur-hamburkan uangnya untuk kemewahan.

Saat menyampaikan seminar ihwal kesuksesannya membangun Sinar Mas Group pada 30 Januari 1995, Eka Tjipta pernah melontarkan prinsip: percuma menghambur-hamburkan uang sebab tak dibawa mati.

Kala itu, nama Eka sudah bersinar sebagai pengusaha sukses. Pada Februari 1994, majalah Eksekutif menobatkan Eka di urutan ketiga sebagai orang terkaya Indonesia berharga Rp 13 triliun. Nilai kekayaan sebesar itu hanya kalah dengan Sudono Salim dan Prajogo Pangestu.

Kendati semua orang tahu Eka kaya raya, dia malah menunjukkan sikap sebaliknya: hidup sederhana. Bahkan, mengaku sangat miskin. Alasan Eka berkata demikian didasari oleh pandangan terkait harta yang bersifat fana.

"Saya namanya orang kaya tapi kenyataannya merasa sangat miskin," kata Eka dalam seminar saat itu.

Dalam kesempatan yang sama, pria bernama asli Oei Ek Tjhong ini mengungkap bahwa semua harta yang diperoleh tidak akan dibawa ketika ajal menjemput. Atas dasar ini, dia tak pernah menggunakan kekayaan untuk kepentingan pribadi.

"Tidak pernah diambil kepentingan diri sendiri. Jika saya selama hidup tidak pergunakan kekayaan saya, apalagi kalau sudah mati juga tidak dapat membawa uang itu," ungkapnya.


Perkataan ini sejalan dengan gaya hidupnya yang berbeda dan jadi sorotan media. Dia diketahui selalu memakai setelan kemeja putih, jas dan celana hitam, serta tak lupa sepatu pantofel.

Bahkan ketika berpergian di luar negeri, dia tak pernah keluar uang untuk foya-foya. Saat di Singapura, misalnya, dia hanya mengeluarkan uang US$ 100. Itupun dipakai untuk memberi tip kepada pelayan di restoran.

Pada 1992, wartawan pernah bertanya ihwal kenikmatan jadi orang kaya. Eka menjawab dia tak tahu nikmat atau tidak menjadi orang kaya, sebab dia selama ini hidup sederhana.

"Tidak tahu, saya tidak merasa kaya," ungkap Eka, dikutip dari majalah Matra (Januari 1992).

Eka berujar daripada uang dipakai foya-foya, lebih baik dialihkan untuk kepentingan ekspansi bisnis. Toh, nanti jika berhasil seorang wirausaha akan mendapat keuntungan pula dari keputusan ekspansi.

Selain anjuran hidup sederhana, dalam seminar Eka juga mengungkap 6 kunci sukses dirinya, yakni rajin, hemat, jujur, ulet, tekun, dan selalu belajar. Dia percaya, jika seseorang menerapkan 6 kunci sukses tersebut, maka peluang untuk sukses menjadi sangat besar.

Keputusan hidup miskin dan sederhana yang diambil Eka dilakukannya hingga akhir hayat. Pengalihan uang untuk kepentingan bisnis dibanding pribadi pada akhirnya terbukti. Seiring waktu, Sinar Mas makin berjaya.

Begitu pula Eka. Pada 2018, setahun sebelum wafat, Eka dinobatkan sebagai orang terkaya ke-3 di Indonesia. Total hartanya mencapai US$ 8,6 miliar atau Rp140 triliun.

Friday, October 4, 2024

ANZ dan Keluarga Gunawan Mau Jual Saham PaninBank (PNBN)

 

bank panin
Foto: Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank asal Australia, ANZ dan Keluarga Gunawan dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menjual saham pengendali gabungan di PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau PaninBank, di mana mereka masing-masing memegang saham substansial. Hal itu diungkapkan tiga sumber Reuters yang mengetahui masalah tersebut.

Ketiga sumber mengatakan bahwa keluarga Gunawan, yang mendirikan PaninBank pada tahun 1971, disebut terbuka untuk mengurangi 46,52% saham mereka sendiri dan menjual kendali bank tersebut. Keputusan keluarga pendiri tersebut sejalan dengan ANZ, yang telah berusaha keluar dari bank tersebut selama bertahun-tahun tetapi tidak berhasil karena masalah valuasi.

Adapun PaninBank saat ini memiliki nilai pasar sekitar US$2,4 miliar atau sebesar Rp37,06 triliun. Saham Panin Bank pun telah naik sekitar 29% tahun ini.

Ketiga sumber mengungkapkan bahwa para pemegang saham telah menunjuk Citigroup untuk menjalankan proses penjualan. Dua sumber di antaranya mengatakan materi pemasaran telah dikirim ke calon pembeli. Sementara sumber ketiga mengatakan proses penjualan formal masih beberapa minggu lagi.

Menurut dua sumber, Keluarga Gunawan fleksibel dalam menentukan berapa banyak saham yang dapat dijual, tergantung pada harga penawaran.

Menurut data LSEG, ANZ memiliki 39,22% saham di bank tersebut. Saham gabungan LSEG dan Keluarga Gunawan bernilai sekitar US$2 miliar berdasarkan harga penutupan hari Rabu sebesar Rp1.540 per saham.

ANZ dan Citigroup menolak permintaan Reuters untuk berkomentar. Sementara Keluarga Gunawan tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

ANZ memang telah berupaya untuk menjual sahamnya di PaninBank sejak 2013, tetapi masalah valuasi telah menghambat upayanya.

Sebagai informasi, kabar akuisisi PaninBank telah bergulir sejak lama. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bahkan sempat disebut berminat masuk ke dalam bank yang didirika Mu'min Ali Gunawan tersebut. Akan tetapi kemudian Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja membantah kabar tersebut.

Kala itu, BCA memang memiliki rencana tumbuh secara anorganik, tetapi hanya mengincar bank skala kecil. Belakangan, BCA mengumumkan akuisisi PT Bank Royal Indonesia yang pada saat itu memiliki modal inti kurang dari Rp 1 triliun.

Lalu bank asal Jepang Mizuho juga sempat masuk dalam bursa membeli saham PNBN. Namun akhirnya, kabar tersebut juga menguap.

Kemudian, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dan Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) disebut bersaing memperebutkan saham Bank Panin. Kedua entitas Jepang tersebut telah memiliki bank menengah atas di Indonesia, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) dan PT Bank BTPN Tbk. (BTPN).

Terbaru, bergulir kabar PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) berminat untuk mencaplok PNBN. Berdasarkan kabar pasar, Maybank yang berasal dari grup perbankan Malaysia itu disebut sedang dalam upaya ekspansi bisnis di Indonesia, satu di antaranya dengan pertumbuhan anorganik.

Thursday, October 3, 2024

Breaking! Rupiah Makin Jeblok, Dolar Tembus Rp15.400

 

Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan rupiah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis hari ini (3/10/2024) sangat volatil menjelang rilis data ketenagakerjaan AS.

Melansir Refintiiv, hingga pukul 12.15 WIB, rupiah sudah bertengger di Rp15.405/US$, sejak awal dibuka sudah melemah 0,95% atau semakin mahal 145 perak.

Pelemahan pada hari ini menjadi yang paling parah dalam pekan ini, jika ini berlangsung sampai akhir sesi, rupiah akan mencatatkan depresiasi selama empat hari beruntun.

Badai rupiah masih berlanjut pekan ini seiring dengan tekanan dolar AS yang kembali melambung.

Pada hari ini untuk waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) naik lagi 0,14% ke posisi 101,81. Ini mengakumulasi kekuatannya dalam sepekan nyaris 1,5%.

Nilai tukar rupiah juga ambruk di tengah memburuknya sentimen pasar global setelah makin memanasnya kondisi di Timur Tengah. Ketidakpastian kembali meningkat setelah Iran kembali menyerang Israel. Konflik bersenjata akan menimbulkan kegalauan di pasar dan para investor akan cenderung memilih aset safe haven ketimbang pasar berisiko seperti saham.

Iran melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal ke Israel pada Selasa kemarin, hanya beberapa jam setelah pejabat Gedung Putih memperingatkan bahwa Teheran "segera" merencanakan serangan.

Tak hanya itu, tantangan masih belum usai di mana pada Kamis hari ini (3/9/2024) pelaku pasar kembali menanti data penting dari AS yakni terkait kepastian pasar tenaga kerja.

Berdasarkan konsensus Trading Economics, klaim pengangguran diperkirakan akan meningkat menjadi 220.000, naik dari pekan sebelumnya sebesar 218.000

Kemudian dilanjutkan data on-Farm Payrolls AS pada esok hari (4/10/2024). Konsensus berada di angka 142K, menandakan potensi perlambatan di sektor pekerjaan. Tingkat pengangguran yang diproyeksikan stabil di 4.2%, serta pertumbuhan gaji per jam yang diantisipasi melemah, menjadi penentu apakah Federal Reserve akan melunak di pertemuan berikutnya.


CNBC INDONESIA RESEARCH

Wednesday, October 2, 2024

IHSG Bangkit, Asing Malah Kompak Lepas Saham-Saham Blue Chip

 

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Usai ditutup di zona merah tiga hari beruntun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit di zona hijau. Indeks melonjak 1,52% ke posisi 7.642,13 akhir perdagangan Selasa (1/10/2024).

Nilai transaksi mencapai Rp 41,67 triliun dengan melibatkan 25,45 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali. Sebanyak 310 saham terapresiasi, 258 saham terdepresiasi dan 228 saham stagnan.

Penguatan IHSG merupakan yang terbaik dibandingkan indeks negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Performa IHSG juga tidak kalah mentereng jika dibandingkan dengan kinerja indeks Asia-Pasifik.


Hampir seluruh sektor berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan kemarin. Hanya sektor kesehatan yang masih lesu, itu pun juga cenderung tipis yakni 0,02%.

Adapun sektor energi menjadi yang paling kencang penguatannya dan menjadi penopang terbesar IHSG, yakni mencapai 2,5%.

Sementara itu, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp509,41 miliar di seluruh pasar. Rinciannya, sebesar Rp347,51 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp161,89 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

BBRI menjadi saham dengan net sell asing terbesar, yakni Rp 42,8 miliar. Lalu diikuti oleh BBNI Rp 41,8 miliar dan SCMA Rp 18,4 miliar. 

Mengutip RTI Business, berikut 10 saham dengan net foreign sell terbesar pada perdagangan kemarin: 

1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp42,8 miliar

2. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) - Rp41,8 miliar

3. PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) - Rp18,4 miliar

4. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) - Rp18,4 miliar

5. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) - Rp15,1 miliar

6. PT XL Axiata Tbk. (EXCL) - Rp11,7 miliar

7. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) - Rp11,4 miliar

8. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) - Rp10,8 miliar

9. PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) - Rp9,4 miliar

10. PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS) - Rp7,7 miliar