Thursday, September 24, 2026

Kenapa Tiket Pesawat Domestik Bisa Lebih Mahal daripada Luar Negeri?..

 Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia.

Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia. (Pexels/Jeffry Surianto)

Jakarta, Beritasatu.com - Para pelancong sering dibuat heran ketika menemukan tiket pesawat domestik yang harganya lebih mahal dibandingkan penerbangan ke luar negeri. Padahal, secara logika, penerbangan internasional dengan jarak tempuh lebih jauh semestinya membutuhkan biaya lebih besar.

Namun, harga penerbangan tidak hanya ditentukan oleh jarak yang ditempuh pesawat. Berbagai komponen lain turut memengaruhi tarif, mulai dari biaya operasional, harga bahan bakar, pajak, kapasitas penerbangan, hingga tingkat persaingan pada suatu rute.

Kondisi tersebut juga bukan berarti seluruh penerbangan internasional selalu menawarkan harga yang lebih murah. Setiap rute memiliki karakteristik berbeda, termasuk jumlah penumpang, ketersediaan kursi, jumlah maskapai yang melayani rute, serta struktur biaya penerbangan.

Fenomena serupa bahkan terjadi di Amerika Serikat. Pada Juni 2026, Fortune melaporkan harga penerbangan domestik AS meningkat 23,2% dibandingkan Maret 2025. Pada periode yang sama, harga penerbangan internasional meningkat 11,5%.

Di Indonesia, persoalan mahalnya penerbangan domestik juga menjadi perhatian. Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty menilai tingginya harga tiket pesawat domestik dapat menggerus hak masyarakat untuk memperoleh mobilitas yang adil dan terjangkau.

ADVERTISEMENT

Menurut Saadiah, mahalnya penerbangan domestik sudah berulang kali menjadi keluhan masyarakat. Dalam sejumlah kasus, harga penerbangan dalam negeri bahkan tercatat lebih mahal dibandingkan penerbangan internasional dengan jarak tempuh yang relatif dekat.

"Kondisi ini tentu tidak ideal. Penerbangan domestik seharusnya menjadi sarana pemersatu bangsa, bukan justru menjadi moda transportasi yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas,” ujar Saadiah dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).

Persoalan harga tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor struktural dalam industri penerbangan. Saadiah menyoroti tingginya harga avtur, beban pajak, hingga biaya perawatan pesawat yang sebagian besar masih bergantung pada komponen impor.

Ia menilai berbagai faktor tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh oleh pemerintah.

"Biaya avtur yang tinggi, pengenaan PPN pada tiket dan bahan bakar penerbangan domestik, serta mahalnya biaya maintenance karena komponen impor, semuanya berkontribusi pada harga tiket yang akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Lantas, apa saja faktor yang membuat penerbangan domestik bisa lebih mahal daripada penerbangan ke luar negeri?

Alasan Tiket Pesawat Domestik Bisa Lebih Mahal

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut beberapa alasan atau penyebabnya:

1. Harga avtur

Bahan bakar merupakan salah satu komponen utama dalam biaya operasional penerbangan. Ketika harga avtur mengalami kenaikan, pengeluaran maskapai ikut bertambah dan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga tiket yang dibayarkan penumpang.

Di Indonesia, Kementerian Perhubungan pada September 2026 menaikkan batas maksimal fuel surcharge untuk penerbangan domestik kelas ekonomi menjadi 40% dari tarif batas atas. Sebelumnya, batas maksimal tersebut berada di angka 30%.

Penyesuaian itu dilakukan setelah rata-rata harga avtur meningkat sekitar 6,5% dari Agustus ke September 2026. Kementerian Perhubungan memperkirakan perubahan fuel surcharge tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga tiket rata-rata sekitar 8 persen.

Dengan demikian, perubahan harga bahan bakar dapat memberikan pengaruh langsung terhadap struktur biaya penerbangan. Ketika biaya avtur meningkat, maskapai memiliki komponen biaya tambahan yang perlu diperhitungkan dalam penetapan tarif.

Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa membandingkan harga penerbangan hanya berdasarkan jarak tempuh tidak cukup untuk menjelaskan perbedaan tarif.

2. Pajak dan berbagai biaya penerbangan

Komponen tiket pesawat tidak hanya berupa tarif dasar penerbangan. Penumpang juga membayar sejumlah komponen lain yang berkaitan dengan perjalanan udara, seperti pajak, biaya bandara, ground handling, dan berbagai pungutan lainnya.

Pada penerbangan domestik di Indonesia, persoalan pajak dan biaya tambahan tersebut beberapa kali menjadi sorotan. Dalam pembahasan DPR pada Januari 2026, tingginya harga penerbangan domestik dikaitkan dengan PPN tiket dan bahan bakar penerbangan serta biaya perawatan pesawat.

Secara umum, International Air Transport Association (IATA) juga menjelaskan pajak, biaya, dan pungutan penerbangan yang ditetapkan pemerintah maupun otoritas lainnya menjadi komponen yang dapat menambah biaya perjalanan udara bagi penumpang.

Artinya, harga yang terlihat ketika seseorang mencari penerbangan tidak semata-mata mencerminkan jarak antara kota keberangkatan dan tujuan. Struktur biaya yang melekat pada penerbangan juga ikut menentukan besaran tarif yang harus dibayarkan.

Karena itu, penerbangan domestik dengan jarak yang relatif pendek tetap dapat memiliki harga lebih tinggi jika struktur biaya yang menyertainya lebih besar.

3. Kapasitas penerbangan terbatas

Selain biaya operasional, ketersediaan kursi dan tingkat permintaan penumpang juga berperan dalam pembentukan harga. Ketika jumlah kursi yang tersedia terbatas sementara permintaan tetap tinggi, maskapai dapat mempertahankan harga pada tingkat yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut terlihat di Amerika Serikat pada 2026. Fortune mencatat maskapai memangkas sejumlah kapasitas penerbangan domestik ketika permintaan perjalanan masih kuat. Berkurangnya kapasitas tersebut kemudian ikut mendorong kenaikan harga penerbangan domestik.

Situasi serupa juga dapat terjadi pada penerbangan di Indonesia. Setiap rute memiliki jumlah penerbangan, kapasitas pesawat, dan tingkat keterisian yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat harga pada satu rute tidak dapat disamakan dengan rute lainnya.

Sebagai contoh, sebuah rute dengan jumlah penerbangan terbatas dan permintaan tinggi dapat menghadapi kondisi harga yang berbeda dari rute lain yang memiliki banyak penerbangan dengan kapasitas lebih besar.

Oleh karena itu, jarak tempuh bukan satu-satunya dasar untuk membandingkan harga penerbangan. Ketersediaan kursi dan keseimbangan antara kapasitas dengan permintaan juga menjadi bagian penting dalam menentukan tarif.

4. Tingkat persaingan antar-maskapai

Jumlah maskapai yang melayani sebuah rute juga dapat memengaruhi harga penerbangan. Ketika suatu rute dilayani banyak maskapai dengan kapasitas yang memadai, setiap maskapai perlu mempertimbangkan harga yang ditawarkan kompetitor saat menetapkan tarif.

Sebaliknya, kondisi persaingan yang lebih terbatas dapat memberikan tekanan harga yang berbeda. Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat dalam laporan 2026 menemukan persaingan yang lebih kuat dapat mendorong tarif menjadi lebih rendah.

Studi-studi yang dikaji GAO juga menunjukkan ketika merger mengurangi jumlah kompetitor pada rute tertentu, tarif dapat mengalami peningkatan dalam jangka pendek.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya melihat struktur persaingan ketika membandingkan harga penerbangan. Sebuah rute internasional yang dilayani banyak maskapai dapat menghadapi tekanan persaingan yang berbeda dibandingkan rute domestik tertentu.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti penerbangan internasional secara otomatis lebih kompetitif. Tingkat persaingan tetap bergantung pada karakteristik masing-masing rute, termasuk jumlah maskapai yang beroperasi dan kapasitas yang tersedia.

Dengan kata lain, perbedaan harga tiket pesawat domestik dan internasional juga dapat dipengaruhi oleh seberapa ketat maskapai bersaing untuk mendapatkan penumpang pada rute tertentu.

5. Jarak penerbangan bukan satu-satunya penentu harga

Faktor terakhir yang perlu diperhatikan adalah jarak penerbangan. Harga tiket tidak dihitung hanya berdasarkan seberapa jauh pesawat terbang dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Maskapai juga harus memperhitungkan berbagai biaya yang muncul setiap kali pesawat dioperasikan. Biaya tersebut mencakup biaya bandara, awak pesawat, perawatan, hingga penggunaan pesawat.

Pada penerbangan jarak pendek, sejumlah biaya tersebut harus ditanggung dalam perjalanan yang berlangsung lebih singkat. Akibatnya, penerbangan jarak pendek dapat memiliki biaya per unit yang lebih tinggi.

Kondisi itu berkaitan dengan besarnya proporsi biaya yang muncul dari pendaratan, handling, proses lepas landas dan mendarat, serta turn around. Berbagai proses tersebut tetap diperlukan meskipun jarak penerbangan relatif pendek.

Karena itu, penerbangan dengan jarak lebih jauh tidak otomatis memiliki harga tiket yang lebih mahal. Ada sejumlah biaya yang melekat pada setiap pengoperasian pesawat, terlepas dari seberapa jauh pesawat tersebut terbang.

Perbedaan harga antara penerbangan domestik dan internasional dipengaruhi berbagai faktor. Harga avtur, pajak dan biaya penerbangan, keterbatasan kapasitas, tingkat persaingan antar-maskapai, serta struktur biaya penerbangan jarak pendek menjadi beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa penerbangan domestik terkadang lebih mahal.

Wednesday, September 16, 2026

Pemerintah Siapkan Pembangkit Pengganti PLTA Sulsel Terdampak El Nino

 Ilustrasi PLTA.

Ilustrasi PLTA. (Beritasatu.com/AI)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menyiapkan pembangkit pengganti sementara untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terdampak fenomena El Nino.

Bahlil menjelaskan, dampak El Nino membuat kekuatan air yang menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air berkurang. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi kemampuan sejumlah PLTA dalam memasok listrik.

“Sulawesi Selatan itu kan ada beberapa pembangkit yang memang kita pakai PLTA. Akibat El Nino ini, kekuatan air itu berkurang,” ujar dia ketika ditemui setelah rapat kerja (raker) dengan Komisi XII DPR RI di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah telah melakukan mitigasi dengan mencari sumber pembangkit lain untuk menggantikan sementara kapasitas listrik dari PLTA yang terdampak.

ADVERTISEMENT

“Kami sudah mencari solusi, yaitu mengganti sementara dengan pembangkit yang lain,” kata Bahlil.

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan seiring menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro.

Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan produksi PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) mengalami penurunan.

Darmawan memerinci, daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW. Dengan demikian, kapasitas tersebut berkurang sekitar 600 MW.

Selain penurunan produksi pembangkit hidro, terdapat perbaikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 2 x 100 MW milik swasta yang mengalami kendala teknis. Kondisi tersebut turut menyebabkan pasokan listrik berkurang.

Menurut Darmawan, berbagai kondisi tersebut menambah tekanan terhadap keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik di wilayah Sulbagsel.

Untuk meningkatkan pasokan listrik, PLN menjalankan sejumlah langkah secara simultan. Selain mempercepat proses perbaikan pembangkit, PLN mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas hingga 627 MW.

PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melaksanakan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Langkah tersebut dilakukan guna meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.

Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang dapat disemai masih terbatas.

“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali. Prosesnya kami kawal dan evaluasi dari hari ke hari,” kata Darmawan.

Untuk jangka panjang, PLN juga menyiapkan penguatan sistem kelistrikan Sulbagsel agar lebih beragam, fleksibel, dan resilien dalam menghadapi dinamika pasokan.

Sesuai arahan presiden melalui program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp PLTS serta 8,2 gigawatt hour (GWh) battery energy storage system (BESS).