Thursday, September 10, 2026

Kejar Target, Aturan Demutualisasi BEI Masuk Finalisasi

 Ilustrasi pasar saham.

Ilustrasi pasar saham. (Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta, Beritasatu.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan rancangan Peraturan OJK (POJK) tentang pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) atau demutualisasi bursa telah memasuki tahap finalisasi. Aturan tersebut kini dalam proses harmonisasi di Kementerian Hukum (Kemenkum) RI dan ditargetkan terbit pada September 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan proses harmonisasi di Kemenkum diharapkan dapat segera diselesaikan pekan ini. Setelah itu, OJK akan melakukan penomoran, penetapan, hingga pengundangan POJK.

“Jadi, sekarang sudah dalam tahap finalisasi, sedang melakukan proses harmonisasi pengaturan di Kementerian Hukum RI, dan kita harapkan di minggu ini kita dapat menyegerakan untuk menyelesaikan proses persetujuan harmonisasi dimaksud. Baru setelah itu kita lakukan penomoran dan penetapan, serta pengundangannya segera,” ujar Hasan kepada wartawan, baru-baru ini.

Hasan menegaskan OJK masih mempertahankan target penerbitan POJK demutualisasi BEI pada September 2026. Menurut dia, aturan tersebut akan menjadi landasan hukum untuk memulai tahapan persiapan dan pelaksanaan demutualisasi bursa.

“Doakan mudah-mudahan sesuai target. Insyaallah tetap di bulan September ini kita akan dapat menerbitkan landasan hukum pengaturannya berupa POJK tentang pemegang saham Bursa Efek,” kata Hasan.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, demutualisasi merupakan perubahan struktur kepemilikan BEI dari bursa yang dimiliki oleh anggota bursa menjadi perseroan dengan struktur kepemilikan yang lebih luas. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari agenda reformasi pasar modal dan tindak lanjut amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), yang kemudian diperkuat melalui perubahan regulasi sektor keuangan pada 2026.

OJK sebelumnya memasukkan demutualisasi BEI sebagai salah satu dari delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia. OJK menyebut demutualisasi ditujukan antara lain untuk memperkuat tata kelola dan mengurangi potensi konflik kepentingan di bursa. Dalam perkembangan terbaru, OJK menyatakan pembahasan RPOJK Pemegang Saham Bursa Efek telah memperoleh masukan dari berbagai pemangku kepentingan dan kini memasuki proses sesuai mekanisme penyusunan regulasi.

Demutualisasi juga menjadi bagian dari reformasi struktural pasar modal yang terus didorong OJK, BEI, dan KSEI. Sebelumnya, OJK telah menuntaskan sejumlah agenda reformasi transparansi, termasuk keterbukaan data kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1%, pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), serta penguatan klasifikasi investor menjadi 39 tipe. Langkah reformasi tersebut mendapat pengakuan dalam asesmen MSCI.

Pada Juni 2026, Indonesia tetap dipertahankan dalam klasifikasi Emerging Market, seiring berbagai upaya OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) memperbaiki transparansi serta integritas pasar modal.

Terbitnya POJK demutualisasi nantinya akan menjadi pemicu bagi BEI untuk memasuki tahapan korporasi berikutnya. Salah satu agenda awal adalah perubahan anggaran dasar (AD) BEI untuk menyesuaikan struktur kepemilikan baru.

Roadmap-nya secara umum sama seperti corporate action yang lain. Aksi korporasi kita harapkan segera setelah ini tentu bursa melakukan persiapan yang diperlukan, misalnya mereka harus memulai melakukan perubahan anggaran dasarnya, karena kan sifat struktur kepemilikannya berubah,” jelas Hasan.

Perubahan AD tersebut harus memperoleh persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI. Pada tahap awal, RUPSLB akan melibatkan pemegang saham eksisting BEI, yakni anggota bursa. Setelah perubahan struktur kepemilikan mendapatkan persetujuan, BEI dapat menentukan mekanisme untuk menghadirkan pemegang saham baru dari kalangan nonanggota bursa.

Sebelumnya, BEI menunda RUPSLB yang semula dijadwalkan pada 15 September 2026. Penundaan tersebut dilakukan karena bursa masih menunggu terbitnya POJK yang menjadi landasan hukum pelaksanaan demutualisasi. Hasan menilai penundaan tersebut merupakan hal yang dapat dipahami karena RUPSLB memang perlu mengacu pada ketentuan POJK yang akan diterbitkan.

“Kalau RUPS Bursa ditunda tentu bisa dapat dipahami, karena tentu pelaksanaan RUPS itu harus menunggu dan mengacu kepada landasan aturan POJK,” ujarnya.

Monday, August 24, 2026

IHSG Galau, Turun Tipis 0,01 Persen setelah Naik Awal Sesi

 Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (AP Photo/Asprilla Dwi Adha)

Jakarta, Beritasatu.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak melemah tipis pada perdagangan Senin (24/8/2026) pagi. Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.19 WIB, IHSG turun 0,743 poin atau 0,01% menjadi 6.524,947.


IHSG dibuka di zona hijau, ada level 6.544,002. Sepanjang perdagangan pagi, indeks sempat mencapai level tertinggi 6.551,003 dan terendah 6.518,929.



Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 7,422 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,589 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 380.105 kali.




Daftar 10 Saham yang Jadi Penggerak Utama IHSG Sepekan

Sebanyak 275 saham menguat, sedangkan 240 saham melemah dan 216 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 11.484,785 triliun.


Pergerakan 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung beragam. Sektor barang baku atau basic materials memimpin penguatan dengan kenaikan 1,21%.


Sektor infrastruktur menyusul dengan penguatan 0,81%, energi naik 0,36%, barang konsumen primer menguat 0,30%, properti dan real estat naik 0,29%, kesehatan bertambah 0,16%, teknologi menguat 0,13%, sedangkan sektor perindustrian naik tipis 0,06%.


Pada sisi lain, sektor keuangan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam sebesar 0,48%. Sektor transportasi dan logistik turun 0,13%, sedangkan barang konsumen nonprimer melemah 0,07%.


Delapan sektor tercatat menguat dan tiga sektor berada di zona merah pada perdagangan pagi.


Sejumlah indeks unggulan juga bergerak beragam. Indeks LQ45 melemah 0,26%, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,66%, IDX30 turun 0,38%, sedangkan IDX Investor33 terkoreksi 0,44%.


Penguatan saham terbesar ditempati PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) yang melonjak 27,74%.


Selanjutnya, PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) menguat 16,48%, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) naik 15,08%, PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) bertambah 13,39%, dan PT Oxal Energy International Tbk (PIPA) menguat 12,85%.


BACA JUGA


IHSG Pekan Ini Naik 1,93 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Rp 11.449 T

Sementara itu, penurunan terbesar dicatatkan Reksa Dana Indeks Majoris Pefindo I-Grade (XMIG) yang terkoreksi 14,63%.


PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) turun 7,45%, PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) melemah 6,00%, PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) terkoreksi 5,49%, dan PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) turun 5,41%

Thursday, August 13, 2026

Awal Mula 7 Tentara AS Tewas Seusai Baku Hantam di Kapal USS Lincoln

 Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri), kapal perusak pertahanan udara HMS Defender, dan kapal perusak rudal USS Farragut melintasi Selat Hormuz bersama kapal penjelajah rudal USS Leyte Gulf.

Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri), kapal perusak pertahanan udara HMS Defender, dan kapal perusak rudal USS Farragut melintasi Selat Hormuz bersama kapal penjelajah rudal USS Leyte Gulf. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Tujuh tentara Amerika Serikat (AS) dilaporkan tewas setelah terlibat perkelahian dengan sesama kru di kapal induk USS Abraham Lincoln. Insiden tersebut disebut bermula dari ketegangan akibat masa penugasan yang berlangsung panjang dan keluhan keluarga personel mengenai pengerahan kapal perang itu.

Laporan mengenai insiden tersebut pertama kali disampaikan kantor berita Iran Tasnim. Media tersebut, seperti dikutip Mehr News, menyebut bentrokan terjadi setelah seorang penasihat kepala Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom), Brad Cooper, datang ke kapal untuk merespons keluhan para awak.

Pertemuan yang semula dimaksudkan untuk menanggapi keresahan kru kemudian berubah menjadi situasi kacau. Penasihat tersebut dilaporkan mendapat cemoohan dan lemparan botol air sebelum perselisihan berkembang menjadi perkelahian yang melibatkan pisau serta senjata tajam lainnya.

Menurut sumber militer yang dikutip Tasnim, bentrokan itu menewaskan tujuh personel dan melukai beberapa lainnya. Hingga laporan tersebut disampaikan, suasana pada kapal induk AS itu disebut masih tegang dan tidak menentu.

ADVERTISEMENT

Awal Mula Bentrokan di Kapal Induk USS Lincoln

Menurut laporan Tasnim, persoalan bermula dari meningkatnya keluhan awak kapal terkait lamanya masa penugasan. Keluhan tersebut juga muncul setelah keluarga para tentara AS menyampaikan protes mengenai pengerahan kapal induk yang berlangsung berbulan-bulan.

Seorang penasihat untuk Komandan Centcom Brad Cooper kemudian naik ke USS Abraham Lincoln untuk merespons keluhan yang semakin banyak disampaikan para awak.

Pertemuan tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Saat berbicara di depan para personel Angkatan Laut AS yang berkumpul, penasihat Centcom itu justru mendapat reaksi keras.

"Penasihat tersebut disoraki dan dilempari botol air saat berbicara di depan sekelompok personel," kata sumber militer seperti dilaporkan Tasnim.

Situasi kemudian meningkat menjadi bentrokan fisik. Perselisihan antarkru disebut berlangsung dengan menggunakan pisau dan senjata tajam lainnya.

"Konfrontasi kemudian berkembang menjadi perkelahian di antara anggota kru yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya, menyebabkan tujuh personel tewas dan beberapa lainnya luka-luka," ujar sumber tersebut.

Laporan itu menyebut ketegangan tidak langsung mereda setelah bentrokan. Suasana di atas kapal induk AS tersebut masih dilaporkan tidak tenang.

Panjang masa pengerahan menjadi salah satu latar utama dalam laporan mengenai insiden tujuh tentara AS tersebut. USS Abraham Lincoln disebut telah menjalani pengerahan selama 263 hari.

Kapal induk itu saat ini beroperasi di Samudra Hindia dengan misi utama menegakkan blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut USNI News, gugus tempur kapal induk Abraham Lincoln tiba pada Armada Kelima AS pada akhir Januari 2026. Kedatangan gugus tempur tersebut menandai peningkatan kekuatan Angkatan Laut AS pada kawasan Timur Tengah.

Pengerahan itu berlangsung sebelum konflik AS-Israel dengan Iran yang diluncurkan pada 28 Februari.

Awak kapal kemudian menghabiskan sebagian besar masa penugasan untuk mendukung operasi tempur AS melawan Iran. Penugasan yang semula diperkirakan berakhir pada Mei diperpanjang tanpa tanggal kepulangan yang diumumkan secara publik.

Kondisi tersebut menjadi sumber keresahan bagi para pelaut sekaligus keluarga mereka.

Penugasan Panjang Disebut Memengaruhi Kondisi Pelaut

Media Stripes melaporkan anggota keluarga dan para pelaut sebelumnya telah mengadakan pertemuan untuk membahas penugasan berbulan-bulan di laut tanpa kepastian akhir pengerahan.

Kekhawatiran mengenai kondisi personel disampaikan langsung kepada pimpinan Angkatan Laut AS pada Kamis (6/8/2026). Dalam pertemuan tatap muka tersebut, anggota keluarga berbicara dengan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao serta sejumlah pejabat senior.

Menurut dua pasangan yang hadir, pertemuan tersebut berlangsung intens. Salah satu anggota keluarga bahkan menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kondisi suaminya.

Dalam satu kasus, seorang istri dengan berlinang air mata mengatakan kepada para pejabat dirinya menerima pesan dari suaminya pada hari yang sama. Dalam pesan tersebut, sang suami mengatakan "dia berharap dia tidak bangun besok," menurut salah satu dari sekitar 200 peserta yang hadir dalam pertemuan balai kota di San Diego.

Para pejabat yang memimpin pertemuan tidak memberikan respons langsung terhadap pernyataan tersebut maupun pernyataan serupa. Mereka menyampaikan, para pelaut di atas kapal memiliki akses terhadap petugas kesehatan mental, pendeta, dokter, serta layanan pendukung lainnya.

Para pejabat juga mengatakan pihak layanan berupaya menambah tenaga profesional kesehatan mental untuk ditempatkan pada kapal tersebut.

Kekhawatiran yang muncul dalam pertemuan itu juga sejalan dengan keluhan yang sebelumnya disampaikan para pelaut dan keluarga mereka kepada Stars and Stripes dalam beberapa pekan terakhir.

Persoalan mengenai panjang masa pengerahan tidak hanya muncul dalam keluhan keluarga. Laporan Stripes turut mengutip studi yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal Military Medicine.

Studi tersebut meneliti 956 pelaut yang bertugas pada kapal induk, kapal perusak, dan kapal amfibi. Hasil penelitian menunjukkan ketidakmampuan beristirahat saat dibutuhkan serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental dan fisik berkualitas termasuk aspek yang paling menyulitkan selama penugasan militer.

Penelitian itu juga menemukan persoalan lain yang signifikan, seperti kesulitan berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta minimnya kesempatan untuk mengurangi stres.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika para pelaut tidak mengetahui secara pasti kapan masa penugasan mereka akan berakhir.

Thomas Nutzmann, pensiunan kepala bintara Angkatan Laut yang bertugas selama 20 tahun dan menjalani empat kali penugasan, mengatakan ketidakpastian tersebut dapat memberikan dampak besar kepada para pelaut.

"Tidak ada hari Senin, Selasa, Rabu, ini hanya satu hari," kata Nutzmann tentang berada di laut dalam jangka waktu yang lama.

Ia juga menggambarkan bagaimana masa penugasan yang panjang dapat memengaruhi upaya menjaga semangat para pelaut.

"Anda mencoba untuk mempertahankan optimisme sebaik mungkin. Masalahnya adalah ketika Anda berada di laut begitu lama, Anda hanya bisa melakukan sedikit hal untuk menjaga moral tetap tinggi sebelum Anda mencapai kebuntuan dan di situlah kemerosotan terjadi," katanya.

Angkatan Laut AS tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mereka merespons kekhawatiran keluarga terkait kesehatan mental dan potensi perilaku melukai diri sendiri yang disampaikan dalam pertemuan pada 6 Agustus.

Namun, pihak Angkatan Laut menyatakan kapal tersebut memiliki jaringan dukungan kesehatan mental yang melibatkan konselor, pendeta, tenaga medis, dan berbagai layanan lainnya.

"Pimpinan terus melakukan penilaian untuk memantau dan mempertahankan kesiapan psikologis setiap pelaut," kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika kekhawatiran mengenai kondisi para pelaut terus bermunculan setelah masa pengerahan kapal diperpanjang.

USS Lincoln Dikerahkan ke Tengah Konflik Timur Tengah

Pengerahan kapal induk tersebut juga berlangsung dalam konteks konflik yang lebih luas. Dalam data yang dilaporkan Tasnim, AS mengerahkan USS Lincoln ke Timur Tengah setelah kapal itu terlibat dalam agresi Washington di Venezuela.

Kapal induk tersebut juga disebut terlibat dalam serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran kemudian membalas serangan tersebut sehingga perang terus berlanjut.

Para pemimpin militer disebut telah menyarankan pemerintahan Donald Trump agar tidak memperpanjang perang. Namun, hingga laporan tersebut dibuat, belum terlihat tanda konflik akan segera berakhir.

Situasi perang yang berkepanjangan kemudian berjalan beriringan dengan masa pengerahan USS Abraham Lincoln yang telah mencapai ratusan hari.