Showing posts with label PT BEST PROFIT FUTURES. Show all posts
Showing posts with label PT BEST PROFIT FUTURES. Show all posts

Thursday, August 13, 2026

Awal Mula 7 Tentara AS Tewas Seusai Baku Hantam di Kapal USS Lincoln

 Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri), kapal perusak pertahanan udara HMS Defender, dan kapal perusak rudal USS Farragut melintasi Selat Hormuz bersama kapal penjelajah rudal USS Leyte Gulf.

Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri), kapal perusak pertahanan udara HMS Defender, dan kapal perusak rudal USS Farragut melintasi Selat Hormuz bersama kapal penjelajah rudal USS Leyte Gulf. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Tujuh tentara Amerika Serikat (AS) dilaporkan tewas setelah terlibat perkelahian dengan sesama kru di kapal induk USS Abraham Lincoln. Insiden tersebut disebut bermula dari ketegangan akibat masa penugasan yang berlangsung panjang dan keluhan keluarga personel mengenai pengerahan kapal perang itu.

Laporan mengenai insiden tersebut pertama kali disampaikan kantor berita Iran Tasnim. Media tersebut, seperti dikutip Mehr News, menyebut bentrokan terjadi setelah seorang penasihat kepala Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom), Brad Cooper, datang ke kapal untuk merespons keluhan para awak.

Pertemuan yang semula dimaksudkan untuk menanggapi keresahan kru kemudian berubah menjadi situasi kacau. Penasihat tersebut dilaporkan mendapat cemoohan dan lemparan botol air sebelum perselisihan berkembang menjadi perkelahian yang melibatkan pisau serta senjata tajam lainnya.

Menurut sumber militer yang dikutip Tasnim, bentrokan itu menewaskan tujuh personel dan melukai beberapa lainnya. Hingga laporan tersebut disampaikan, suasana pada kapal induk AS itu disebut masih tegang dan tidak menentu.

ADVERTISEMENT

Awal Mula Bentrokan di Kapal Induk USS Lincoln

Menurut laporan Tasnim, persoalan bermula dari meningkatnya keluhan awak kapal terkait lamanya masa penugasan. Keluhan tersebut juga muncul setelah keluarga para tentara AS menyampaikan protes mengenai pengerahan kapal induk yang berlangsung berbulan-bulan.

Seorang penasihat untuk Komandan Centcom Brad Cooper kemudian naik ke USS Abraham Lincoln untuk merespons keluhan yang semakin banyak disampaikan para awak.

Pertemuan tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Saat berbicara di depan para personel Angkatan Laut AS yang berkumpul, penasihat Centcom itu justru mendapat reaksi keras.

"Penasihat tersebut disoraki dan dilempari botol air saat berbicara di depan sekelompok personel," kata sumber militer seperti dilaporkan Tasnim.

Situasi kemudian meningkat menjadi bentrokan fisik. Perselisihan antarkru disebut berlangsung dengan menggunakan pisau dan senjata tajam lainnya.

"Konfrontasi kemudian berkembang menjadi perkelahian di antara anggota kru yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya, menyebabkan tujuh personel tewas dan beberapa lainnya luka-luka," ujar sumber tersebut.

Laporan itu menyebut ketegangan tidak langsung mereda setelah bentrokan. Suasana di atas kapal induk AS tersebut masih dilaporkan tidak tenang.

Panjang masa pengerahan menjadi salah satu latar utama dalam laporan mengenai insiden tujuh tentara AS tersebut. USS Abraham Lincoln disebut telah menjalani pengerahan selama 263 hari.

Kapal induk itu saat ini beroperasi di Samudra Hindia dengan misi utama menegakkan blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut USNI News, gugus tempur kapal induk Abraham Lincoln tiba pada Armada Kelima AS pada akhir Januari 2026. Kedatangan gugus tempur tersebut menandai peningkatan kekuatan Angkatan Laut AS pada kawasan Timur Tengah.

Pengerahan itu berlangsung sebelum konflik AS-Israel dengan Iran yang diluncurkan pada 28 Februari.

Awak kapal kemudian menghabiskan sebagian besar masa penugasan untuk mendukung operasi tempur AS melawan Iran. Penugasan yang semula diperkirakan berakhir pada Mei diperpanjang tanpa tanggal kepulangan yang diumumkan secara publik.

Kondisi tersebut menjadi sumber keresahan bagi para pelaut sekaligus keluarga mereka.

Penugasan Panjang Disebut Memengaruhi Kondisi Pelaut

Media Stripes melaporkan anggota keluarga dan para pelaut sebelumnya telah mengadakan pertemuan untuk membahas penugasan berbulan-bulan di laut tanpa kepastian akhir pengerahan.

Kekhawatiran mengenai kondisi personel disampaikan langsung kepada pimpinan Angkatan Laut AS pada Kamis (6/8/2026). Dalam pertemuan tatap muka tersebut, anggota keluarga berbicara dengan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao serta sejumlah pejabat senior.

Menurut dua pasangan yang hadir, pertemuan tersebut berlangsung intens. Salah satu anggota keluarga bahkan menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kondisi suaminya.

Dalam satu kasus, seorang istri dengan berlinang air mata mengatakan kepada para pejabat dirinya menerima pesan dari suaminya pada hari yang sama. Dalam pesan tersebut, sang suami mengatakan "dia berharap dia tidak bangun besok," menurut salah satu dari sekitar 200 peserta yang hadir dalam pertemuan balai kota di San Diego.

Para pejabat yang memimpin pertemuan tidak memberikan respons langsung terhadap pernyataan tersebut maupun pernyataan serupa. Mereka menyampaikan, para pelaut di atas kapal memiliki akses terhadap petugas kesehatan mental, pendeta, dokter, serta layanan pendukung lainnya.

Para pejabat juga mengatakan pihak layanan berupaya menambah tenaga profesional kesehatan mental untuk ditempatkan pada kapal tersebut.

Kekhawatiran yang muncul dalam pertemuan itu juga sejalan dengan keluhan yang sebelumnya disampaikan para pelaut dan keluarga mereka kepada Stars and Stripes dalam beberapa pekan terakhir.

Persoalan mengenai panjang masa pengerahan tidak hanya muncul dalam keluhan keluarga. Laporan Stripes turut mengutip studi yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal Military Medicine.

Studi tersebut meneliti 956 pelaut yang bertugas pada kapal induk, kapal perusak, dan kapal amfibi. Hasil penelitian menunjukkan ketidakmampuan beristirahat saat dibutuhkan serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental dan fisik berkualitas termasuk aspek yang paling menyulitkan selama penugasan militer.

Penelitian itu juga menemukan persoalan lain yang signifikan, seperti kesulitan berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta minimnya kesempatan untuk mengurangi stres.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika para pelaut tidak mengetahui secara pasti kapan masa penugasan mereka akan berakhir.

Thomas Nutzmann, pensiunan kepala bintara Angkatan Laut yang bertugas selama 20 tahun dan menjalani empat kali penugasan, mengatakan ketidakpastian tersebut dapat memberikan dampak besar kepada para pelaut.

"Tidak ada hari Senin, Selasa, Rabu, ini hanya satu hari," kata Nutzmann tentang berada di laut dalam jangka waktu yang lama.

Ia juga menggambarkan bagaimana masa penugasan yang panjang dapat memengaruhi upaya menjaga semangat para pelaut.

"Anda mencoba untuk mempertahankan optimisme sebaik mungkin. Masalahnya adalah ketika Anda berada di laut begitu lama, Anda hanya bisa melakukan sedikit hal untuk menjaga moral tetap tinggi sebelum Anda mencapai kebuntuan dan di situlah kemerosotan terjadi," katanya.

Angkatan Laut AS tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mereka merespons kekhawatiran keluarga terkait kesehatan mental dan potensi perilaku melukai diri sendiri yang disampaikan dalam pertemuan pada 6 Agustus.

Namun, pihak Angkatan Laut menyatakan kapal tersebut memiliki jaringan dukungan kesehatan mental yang melibatkan konselor, pendeta, tenaga medis, dan berbagai layanan lainnya.

"Pimpinan terus melakukan penilaian untuk memantau dan mempertahankan kesiapan psikologis setiap pelaut," kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika kekhawatiran mengenai kondisi para pelaut terus bermunculan setelah masa pengerahan kapal diperpanjang.

USS Lincoln Dikerahkan ke Tengah Konflik Timur Tengah

Pengerahan kapal induk tersebut juga berlangsung dalam konteks konflik yang lebih luas. Dalam data yang dilaporkan Tasnim, AS mengerahkan USS Lincoln ke Timur Tengah setelah kapal itu terlibat dalam agresi Washington di Venezuela.

Kapal induk tersebut juga disebut terlibat dalam serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran kemudian membalas serangan tersebut sehingga perang terus berlanjut.

Para pemimpin militer disebut telah menyarankan pemerintahan Donald Trump agar tidak memperpanjang perang. Namun, hingga laporan tersebut dibuat, belum terlihat tanda konflik akan segera berakhir.

Situasi perang yang berkepanjangan kemudian berjalan beriringan dengan masa pengerahan USS Abraham Lincoln yang telah mencapai ratusan hari.

Wednesday, August 12, 2026

Banyak Musuh, Trump Dipindah ke Pesawat Militer Pakai Truk Katering

 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AFP/Kent Nishimura)

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam meninggalkan Turkiye dengan menggunakan pesawat militer pada Juli lalu di tengah dugaan ancaman pembunuhan dari Iran. Padahal, Gedung Putih sebelumnya secara terbuka menyatakan Trump berada di dalam pesawat kepresidenan Air Force One.

Informasi tersebut diungkap media AS, The Washington Post, pada Senin (10/8/2026) waktu setempat dengan mengutip keterangan dari sejumlah pejabat AS dan sumber yang mengetahui aksi penggantian pesawat tersebut, melansir Antara

Menurut laporan tersebut, Trump awalnya menaiki pesawat Air Force One yang usianya sudah lebih tua saat di Ankara. Namun, beberapa menit kemudian, ia diam-diam dipindahkan ke pesawat militer Air Force C-32A yang berukuran lebih kecil.

Mengutip Anadolu, Selasa (11/8/2026), proses pemindahan dilakukan menggunakan truk katering bandara. Manuver tersebut disebut dirancang untuk menyembunyikan keberadaan Trump dari publik, wartawan, serta sejumlah staf Gedung Putih. Operasi itu dilakukan pada malam setelah pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, menyusul kegagalan perundingan antara Washington dan Teheran.

ADVERTISEMENT

Trump berada di Ankara untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada 7-8 Juli 2026 bersama sejumlah pemimpin dunia. Saat itu, muncul dugaan ancaman terhadap keselamatan Trump. 

Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung mengatakan, pesawat Air Force One pemberian Qatar tersebut digunakan untuk memastikan keselamatan sang presiden.

“Seperti yang baru-baru ini disampaikan presiden, ada banyak musuh AS yang mengincarnya. Kami menggunakan setiap sarana yang tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut,” jelas Steven.