ersen Article Icon 5.000 Wisatawan Kunjungi Pantai Carita di Tengah Erupsi Anak Krakatau Article Icon Atalia Kritik Penggerebekan Ponpes Hamalatul Quran yang Picu Trauma Article Icon DPR Usul Bentuk TGPF Independen Usut Polisi Gerebek Ponpes Sukoharjo Article Icon Kelalaian Kolektif Buat Isenmulang Kalah Telak dari Persib Article Icon Kapolri Terbitkan Surat Edaran Larang Anggota Polri Gunakan Vape Article Icon MA Beri Penjelasan Soal Putusan Batalkan Suket Ijazah Gibran Hari IniArticle Icon Penutupan Sesi I, IHSG Siang Ini Balik Arah Menguat Nyaris 1 Persen Article Icon 5.000 Wisatawan Kunjungi Pantai Carita di Tengah Erupsi Anak Krakatau Article Icon Atalia Kritik Penggerebekan Ponpes Hamalatul Quran yang Picu Trauma Article Icon DPR Usul Bentuk TGPF Independen Usut Polisi Gerebek Ponpes Sukoharjo Article Icon Kelalaian Kolektif Buat Isenmulang Kalah Telak dari Persib Article Icon Kapolri Terbitkan Surat Edaran Larang Anggota Polri Gunakan Vape Article Icon MA Beri Penjelasan Soal Putusan Batalkan Suket Ijazah Gibran Hari Ini
ADVERTISEMENT
Home
Ekonomi
Cabai Merah dan Rawit Jadi Biang Inflasi Indonesia pada Oktober 2026
Senin, 2 November 2026 | 12:25 WIB
IB
AD
Penulis: Indra Bramantyo | Editor: AD
Harga cabai di sejumlah pasar Kota Kediri, Jawa Timur, terus mengalami kenaikan akibat musim kemarau dan peningkatan aktivitas serta erupsi gunung berapi.
Harga cabai di sejumlah pasar Kota Kediri, Jawa Timur, terus mengalami kenaikan akibat musim kemarau dan peningkatan aktivitas serta erupsi gunung berapi. (Beritasatu.com/M. Muajijin)
Jakarta, Beritasatu.com - Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi pemicu utama inflasi Indonesia pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan mencapai 0,22% atau secara bulanan (month-to-month/mtm).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,51% dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,15%.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%. Berikutnya cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05%, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04%,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Senin (2/11/2026).
BACA JUGA
BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Tembus 0,22 Persen
Selain cabai merah, cabai rawit, dan tomat, sejumlah komoditas sayuran juga turut menyumbang inflasi. Sawi hijau, labu siam, dan sawi putih masing-masing memberikan andil sebesar 0,01%.
ADVERTISEMENT
Di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau, tarif angkutan udara juga menjadi salah satu pendorong inflasi dengan andil sebesar 0,01%.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,06%, dengan andil terhadap deflasi umum sebesar 0,01%. Penurunan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama deflasi pada kelompok tersebut.
Berdasarkan komponennya, seluruh kelompok pengeluaran yang menjadi komponen inflasi mengalami kenaikan harga pada Oktober 2026. Komponen tersebut meliputi inflasi inti (core inflation), harga yang diatur pemerintah (administered price), dan harga bergejolak (volatile food).
Komponen harga bergejolak mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,77%, dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,13%. Kenaikan harga pada komponen ini terutama dipengaruhi oleh cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam, dan sawi putih.
Adapun komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,12%, dengan andil sebesar 0,07%. Ateng menjelaskan, tidak ada komoditas yang secara dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi inti pada periode tersebut.
“Tidak terdapat komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan terhadap inflasi komponen inti. Sebagai informasi, untuk cut off-nya andil dominan yang kami gunakan yaitu 0,01%,” jelas Ateng.
BACA JUGA
Ekspor Indonesia Tembus US$ 221,23 Miliar hingga September 2026
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09%, dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,02%. Tarif angkutan udara menjadi komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada komponen tersebut.
Dari sisi wilayah, BPS mencatat inflasi bulanan terjadi di 33 provinsi pada Oktober 2026. Sementara itu, lima provinsi lainnya mengalami deflasi.
Papua Selatan menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi, yakni sebesar 1,12%. Sebaliknya, Gorontalo mencatat deflasi terdalam sebesar 0,67%.